Yohanis Manibuy: Dari Perjuangan Politik Menuju Pembuktian untuk Rakyat Bintuni

Oplus_131072
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 61

“Yohanis Manibuy: Merawat Kedekatan dengan Rakyat, Memperjuangkan Masa Depan Bintuni”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Jabatan bupati tidak selalu membuat seseorang berjarak dengan masyarakat. Di Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy justru dikenal dengan sapaan Anisto. Senyum dan kebiasaannya menyapa warga menjadi bagian dari citra yang melekat pada dirinya.

Namun, kedekatan dengan masyarakat bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan. Publik juga menunggu bagaimana seorang kepala daerah menerjemahkan kepercayaan politik menjadi kebijakan yang adil, pelayanan publik, dan pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Yohanis Manibuy bersama Wakil Bupati Joko Lingara dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Keduanya memimpin Teluk Bintuni melalui pasangan dengan jargon SERASI. Sejak itu, sejumlah agenda pemerintahan mulai dijalankan, meski masa kepemimpinan mereka masih berada pada tahap awal.

Perjalanan politik Yohanis bukan jalan yang selalu mulus. Pada Pilkada 2015, ia maju sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Daniel Asmorom. Pasangan tersebut kalah dengan selisih tujuh suara. Lima tahun kemudian, ia kembali mengikuti kontestasi politik, tetapi belum berhasil memperoleh kemenangan.

Dua kali kegagalan itu tidak menghentikan langkahnya. Pada Pilkada 2024, pasangan Yohanis Manibuy-Joko Lingara memperoleh 21.068 suara atau 51,81 persen. Kemenangan tersebut mengantarkan keduanya memimpin Teluk Bintuni untuk periode 2025-2030.

Bagi sebagian warga, perjalanan panjang itu menjadi bagian dari karakter Anisto. Ia dinilai mudah bergaul dan tidak membatasi komunikasi berdasarkan jabatan maupun latar belakang sosial.

“Anisto itu ramah, dermawan, dan tidak pernah menjaga jarak. Bertemu di pasar, gereja, atau acara adat, selalu tersenyum dan menyapa lebih dahulu,” ujar seorang warga Bintuni.

Menata Birokrasi dan Memperjuangkan Hak Daerah

Salah satu pekerjaan rumah pemerintahan Teluk Bintuni adalah penataan kepegawaian, terutama menyangkut masa depan tenaga honorer. Pada April 2026, sebanyak 1.054 tenaga honorer menerima surat keputusan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam memberikan kepastian status kepegawaian. Yohanis juga mengingatkan pentingnya mengakhiri sekat-sekat sosial di tengah masyarakat.

“Hentikan perbedaan. Kita semua adalah anak-anak dari tujuh suku asli yang ada di daerah ini,” katanya.

Pesan itu memiliki arti penting bagi Teluk Bintuni yang dihuni masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya beragam. Pemerataan kesempatan dan perlakuan yang adil menjadi bagian penting dalam membangun birokrasi yang inklusif.

Di luar persoalan kepegawaian, Yohanis juga membawa isu pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi ke tingkat pusat. Sebagai daerah penghasil migas melalui Proyek Tangguh LNG, Teluk Bintuni memiliki kepentingan besar terhadap kebijakan fiskal yang mengatur pembagian penerimaan negara.

Di hadapan Komisi XII DPR RI dan Gubernur Papua Barat, ia meminta revisi Perdasus Nomor 22 Tahun 2022 tentang pembagian DBH migas. Menurut dia, formula pembagian yang berlaku perlu dievaluasi agar lebih memperhatikan kontribusi daerah penghasil dan kepentingan masyarakat adat.

Persoalan ini bukan sekadar menyangkut besaran anggaran. Lebih jauh, pembagian DBH berkaitan dengan kemampuan daerah membiayai pelayanan publik, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah penghasil.

Apalagi, potensi sumber daya alam Teluk Bintuni belum sepenuhnya tercermin dalam kemandirian fiskal daerah. Data yang disampaikan dalam bahan pemberitaan menunjukkan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap APBD masih sekitar 3,90 persen. Angka ini menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya alam belum otomatis menjamin kuatnya kemampuan keuangan daerah.

Pemuda dan Masa Depan Bintuni

Pembangunan, bagi Yohanis, tidak cukup diukur melalui panjang jalan, jumlah gedung, atau besarnya belanja pemerintah. Kualitas sumber daya manusia juga menentukan arah masa depan daerah.

Pesan itu disampaikan ketika membuka Phapeda Youth Camp yang diikuti 115 pemuda. Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, ia kembali mengajak generasi muda untuk berani bermimpi, tekun bekerja, memiliki semangat patriotisme, serta mengembangkan kepedulian terhadap sesama.

Ajakan tersebut menempatkan pemuda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan bagian dari pelaku perubahan. Mereka perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan, menyampaikan gagasan, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun pemerintahan.

Kepemimpinan Yohanis Manibuy masih akan diuji oleh banyak persoalan. Penataan birokrasi, pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi masyarakat, serta perjuangan memperoleh hak fiskal daerah membutuhkan konsistensi kebijakan dan pengawasan publik.

Senyum dan kedekatan dengan masyarakat dapat menjadi modal sosial seorang pemimpin. Namun, kepercayaan publik pada akhirnya ditentukan oleh hasil kerja, keberpihakan kebijakan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dari dua kali kegagalan dalam kontestasi politik hingga akhirnya memenangkan Pilkada 2024, perjalanan Anisto memperlihatkan arti ketekunan dalam politik. Kini, tantangan yang lebih besar menantinya: memastikan kepercayaan rakyat benar-benar berubah menjadi kesejahteraan bagi masyarakat Teluk Bintuni.

(MA/red/inspirasipapua.id)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *